Riri Riza

Riri Riza dikenal sebagai salah satu sutradara, penulis skenario, dan produser paling berpengaruh dalam perfilman Indonesia. Bersama produser Mira Lesmana, Riri menjadi sosok penting di balik kebangkitan perfilman Indonesia modern melalui berbagai karya di bawah naungan rumah produksi Miles Films.

Perjalanan akademiknya dimulai di SMA Labschool Jakarta, sebelum melanjutkan pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan Penyutradaraan Film. Ia lulus pada tahun 1993 dengan film pendek tugas akhir yang mendapat perhatian di berbagai festival internasional.

Tak berhenti di situ, Riri kemudian memperoleh beasiswa Chevening untuk melanjutkan studi di Royal Holloway, University of London, mengambil program master di bidang penulisan skenario film pada tahun 2000. Pengalaman dan pengetahuan yang ia dapatkan di Inggris memperkaya perspektif sinematiknya, terutama dalam memadukan kedalaman narasi dengan konteks sosial-budaya Indonesia.

Riri mulai dikenal luas setelah menyutradarai film Petualangan Sherina (2000), yang kemudian menjadi salah satu film keluarga paling ikonik di Indonesia.

Kesuksesan itu disusul dengan sejumlah karya besar lain, seperti Gie (2005), Laskar Pelangi (2008), yang menorehkan rekor box office nasional, serta Athirah (2016), film biografis yang mengantarkannya pada berbagai penghargaan prestisius.

Di tahun-tahun berikutnya, ia terus aktif berkarya dan bereksperimen dengan berbagai genre. Terbaru, Riri kembali ke layar lebar dengan Rangga & Cinta (2025), sebuah “rebirth” dari kisah klasik yang menegaskan konsistensinya dalam menghadirkan film bermakna lintas generasi.

Sebagai sutradara, Riri dikenal dengan gaya penceritaan yang peka terhadap budaya lokal. Ia kerap mengangkat kisah dari berbagai daerah di Indonesia, memadukannya dengan nilai-nilai universal yang membuat filmnya bisa diterima di kancah global.

Pendekatan artistiknya mencerminkan perpaduan antara humanisme dan realisme, menjadikan karya-karyanya tidak hanya menghibur, tetapi juga reflektif.

Dalam wawancara, Riri pernah mengungkapkan bahwa satu proyek film bisa memakan waktu hingga lima tahun, mencakup riset mendalam, pengembangan karakter, dan penyusunan naskah yang matang.

Kiprahnya juga tidak lepas dari semangat kolaborasi dan pengembangan talenta baru. Bersama Mira Lesmana, ia ikut mendirikan Rumata’ Artspace di Makassar, sebuah ruang kreatif yang berfokus pada pengembangan seni dan perfilman di kawasan Indonesia Timur.

Riri juga merupakan salah satu sutradara yang terlibat dalam film kolaboratif Kuldesak (1998), proyek penting yang menandai awal kebangkitan sinema independen Indonesia di akhir 1990-an.

Meskipun beberapa karyanya mencetak sukses besar secara komersial, Riri Riza tetap menjaga integritas artistik dalam setiap filmnya. Ia konsisten memilih cerita yang memiliki kedalaman manusia dan budaya, alih-alih semata mengejar angka penonton.

Daftar Film dan Series